Inflasi sebesar itu mencatatkan Indonesia sebagai negara dengan inflasi terendah di Asia-Pasifik. “Inflasi tercatat 3,79% ini terendah di kawasan Asia-Pasifik.Inflasi tahun 2009 waktu itu mencapai 2,78% terendah sepanjang sejarah republik,” papar Presiden SBY saat membuka sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden, Jakarta,kemarin.
Selain inflasi rendah, indikasi positif lain yang ditunjukkan perkembangan ekonomi Indonesia adalah pertumbuhan ekonomi di kuartal IV yang mencapai 6,5% serta volume ekspor yang tembus USD200 miliar. Presiden mengatakan, pertumbuhan ekonomi tersebut tertinggi dibandingkan negara-negara ASEAN.
Capaian tersebut memberikan semangat untuk mempertahankan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Tanah Air pada tahun ini. Untuk defisit anggaran yang mencapai Rp90,1 triliun atau 1,27% dari total APBN-P 2011, Presiden menilai sangat baik karena jauh di bawah target yang ditetapkan yaitu sebesar Rp150,8 triliun atau 2,09%.
Kendati mengaku puas,Presiden SBY meminta semua pihak untuk tetap bekerja keras agar realisasi anggaran tahun depan,terutama untuk belanja modal dan barang, bisa lebih baik lagi.“Pembelanjaan kita mencapai 97,6% atau sama dengan Rp1.289,6 triliun. Defisit yang ditetapkan sebesar 2,09%, yang terealisasi adalah 1,27%, Alhamdulillah di bawah 1,5%,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah mensinyalir ada dua hal yang akan menjadi ancaman tingginya tekanan inflasi pada tahun ini.Keduanya yakni kebijakan pembatasan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan rencana penyesuaian tarif dasar listrik (TDL). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, realisasi inflasi 2011 yang hanya 3,79% harus dipertahankan di tahun ini.
Pemerintah menyadari, hal itu tidak mudah. Sebab, pada triwulan I tahun ini pemerintah akan menerapkan rencana kebijakan pembatasan BBM bersubsidi dan rencana penyesuaian TDL.“Dengan pembatasan itu, akan ada sedikit kenaikan inflasi walaupun itu satu kali term,”ujar Hatta. Namun, Hatta belum dapat menyebutkan estimasi atau simulasi peningkatan inflasi saat kebijakan tersebut direalisasikan.
Pemerintah berjanji mengupayakan berbagai hal untuk menjaga laju inflasi. Salah satunya dengan memberikan perlindungan kepada masyarakat pengguna transportasi massal saat kebijakan pembatasan BBM bersubsidi dijalankan. Menurutnya, salah satu kunci menjaga tekanan inflasi tidak terlalu tinggi adalah menjaga stabilitas harga dan supply bahanpangankebutuhanpokok masyarakat.
Tahun 2011,pemerintah berhasil menjaga tekanan harga bahan pokok melalui berbagai kebijakan yang dikeluarkan.“ Target inflasi 5,3% tetap kita jaga,”tambahnya. Pengamat ekonomi Universitas Atma Jaya A Prasetyantoko menuturkan, pertumbuhan ekonomi tinggi di Indonesia dan India menggambarkan terjadinya pergeseran pusat perekonomian dunia. Anjloknya perekonomian negara-negara maju berpengaruh positif dalam menggerakkan perekonomian domestik.
“Sementara untuk inflasi yang rendah, itu karena faktor penurunan harga komoditas dunia, seperti pangan,minyak, dan emas,”kata Prasetyantoko. Dari sisi kebijakan makro, Prasetyantoko melihat, masih belum maksimal, baik oleh pemerintah maupun Bank Indonesia. Realisasi belanja infrastruktur yang rendah mencerminkan peran fiskal sebagai stimulus masih belum optimal.
Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengaku tidakkagetdenganrealisasilaju inflasi yang jauh di bawah asumsi pemerintah. Rendahnya tekanan inflasi sudah sesuai dengan prediksi Bank Indonesia. “Inflasi 3,8%, saya sudah tahu sejak tiga bulan yang lalu,”ucap Darmin,Senin (2/11) malam. Darmin belum memberi komentar soal rendahnya tekanan inflasi sepanjang 2011 dengan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate). Dia beralasan, hal itu harus memperhitungkan inflasi ke depannya.
BI akan melihat terlebih dahulu tren inflasi dalam beberapa bulan mendatang.“ BI Ratetidak hanya bicara inflasi sekarang, tapi enam bulan ke depan,”tuturnya. Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi selama Desember 2011 mencapai 0,57%. Sepanjang periode Januari hingga Desember 2011 dan inflasi year on year (Desember 2010 terhadap Desember 2011) mencapai 3,79%.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar